Good Thoughts and Inner Beauty


Setiap wanita yang normal dan tentu saja sehat akal pikirannya pastilah ingin tampil cantik. Banyak cara yang mereka lakukan untuk itu. Bahkan tak sedikit yang sampai berani mengeluarkan uang ratusan juta rupiah demi tampil "cantik". Kali ini saya ingin berbagi dengan pembaca wanita blog ini, khususnya bab tentang bagaimana menjadi cantik tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Terus terang ini adalah karya sahabat saya, Mas Sulak. Langsung saja disantap, ya ?.

Penari Kecil dan Mahkotanya

A.S. Laksana

AKU tetap mengingatnya sampai sekarang. Ia gadis cilik yang menyenangkan. Namanya Rina dan aku menyebutnya penari kecil dan aku suka mengikutinya ke mana-mana. Aku senang melihat ia menari.

Hari itu ia berada di tepi pantai, menikmati ombak dan pasir dan cahaya matahari. Angin bertiup dari arah laut, lembut dan segar di kulit. Debur ombak mengirimkan rasa hangat di dada. Aku menyukai debur ombak: ia selalu terdengar seperti alunan musik di telinga orang-orang yang bahagia.

Gadis  kecil itu segera melepas sandalnya dan berjalan telanjang kaki di atas hamparan pasir. Ibunya sedang berteduh di sebuah gubuk kecil di bawah pohon bersama adiknya. Ibunya kecapekan dan adiknya meminta dibelikan minuman. Penari kecil terus berjalan-jalan dan sesekali menari di atas pasir. Ia senang merasakan butir-butir pasir di bawah telapak kakinya.

“Aku akan ke sana ayah,” katanya kepada ayahnya yang sedang asyik membikin istana pasir.

“Ya, selamat bersenang-senang,” kata ayahnya.

Maka penari kecil itu berjalan menjauhi ayahnya dan berhenti di satu tempat yang agak sunyi dan menari di sana. Ia menari diiringi suara ombak yang terdengar seperti musik di telinganya, diiringi hembusan angin pantai yang seperti suara nyanyian merdu. Dan angin yang berhembus itu memberi perasaan sejuk pada kulit tangannya, pada wajahnya, meniup rambutnya, memberi kesejukan pada kedua kakinya.

Ia terus menari sampai-sampai tidak memperhatikan apa pun di sekitarnya. Ia tidak memperhatikan lagi suara ombak, tidak ia dengar lagi suara angin, dan ia hanya merasakan bahwa sekarang hatinya sangat gembira.

Ia juga tidak menyadari ketika aku muncul dari arah belakangnya.

“Hei, aku tahu, kau penari yang hebat,” kataku.

Penari kecil menghentikan tariannya. Ia terkejut melihatku. Sudah beberapa waktu aku ingin bercakap-cakap berdua saja dengannya. Maka, saat kesempatan itu tiba, aku mempersiapkan diri secantik mungkin. Kukenakan baju biru kesukaanku. Kukenakan mahkota kuning keemasan. Tentu kubawa juga tongkatku, sebatang tongkat warna merah, seperti warna mawar. Aku membawa tongkat itu seperti membawa setangkai mawar.

Beberapa gumpalan awan putih mengapung di langit.

“Apakah... kau bidadari?” tanyanya.

“Aku peri,” kataku.

“Kau cantik seperti bidadari,” kata penari kecil. “Kalau aku besar aku ingin secantik dirimu.”

“Justru aku yang ingin secantik engkau, Penari Kecil,” kataku.

Aku peri yang jujur dan aku bicara sungguh-sungguh. Menurutku ia sangat cantik dan aku tahu ia kelak akan lebih cantik ketimbang aku, jika ia bisa mempertahankan rasa bahagianya. Aku sudah pernah bertemu dengan banyak orang dan menurutku orang-orang yang bahagia selalu tampak lebih cantik. Dan si penari kecil akan bisa mewujudkan apa yang ia inginkan jika ia selalu menari atau melakukan apa saja dengan hati riang.

“Kau selalu gembira seperti ini, Penari Kecil?” tanyaku.

“Hari ini aku memang gembira sekali,” katanya. “Tetapi aku kadang-kadang sedih juga.”

“Dan apa yang membuatmu tidak gembira?” tanyaku.

“Sudah lama aku ingin ke pantai dan baru hari ini ayah mengajakku kemari,” katanya. “Dulu tidak sesulit ini. Jika aku minta ke pantai, hari itu juga kami segera ke pantai.”

“Hmmm...,” kataku. “Jika kau sedang tidak gembira, sebetulnya kau bisa belajar menjadi anak yang pemberani dan sabar.”

Penari kecil diam beberapa saat. Mungkin ia tidak memahami apa yang kukatakan. Namun ia kemudian berkata dengan riang, “Ya, tentu saja aku bisa belajar menjadi anak yang pemberani dan sabar.”

“Aku percaya,” kataku.

Ia memandangiku. Matanya cerah.

“Mahkotamu indah sekali,” katanya.

“Kau mau?” tanyaku.

Kulepas mahkota yang kukenakan dan kupakaikan di kepalanya.

“Cocok sekali untukmu,” kataku. “Jika kau merawatnya dengan baik, mahkota itu akan lebih berkilau dan lebih indah. Kau tahu cara merawatnya?”

Ia menggeleng.

“Sekarang perhatikan baik-baik. Aku akan memberimu rahasianya. Tapi ini hanya untuk kita berdua. Tak perlu menceritakannya kepada orang lain.”

Mata penari kecil memancarkan kegembiraan. Aku diam sejenak dan ia tampak tak sabar menungguku menyampaikan rahasia.

“Kau bisa mempertahankan pikiran baik?” tanyaku.

Ia menggeleng.

“Maksudku, kau bisa memikirkan hal-hal yang baik?”

Ia mengangguk.

“Jadi itulah rahasia untuk merawat keindahan mahkotamu. Kau hanya perlu memikirkan hal-hal yang baik dan itu akan membuat mahkotamu kian bercahaya.”

“Tapi aku kadang-kadang sedih,” kata si penari.

“Hei, bukankah dengan demikian kau bisa belajar menjadi gadis yang pemberani dan sabar?”

“Oya, aku ingat itu,” katanya. Suaranya terdengar girang.

“Bagus sekali,” kataku. “Sekarang aku harus pulang ke tempatku.”

Ia mencoba menahanku. Ia ingin kami menjadi teman baik dan ke mana-mana selalu bersama. Ia bahkan memintaku tinggal di rumahnya. “Ayah dan ibuku pasti juga senang denganmu,” katanya.

Aku senang mendengarnya, tapi aku tak bisa.

“Aku harus pulang,” kataku.

“Di mana kau tinggal?”

“Agak jauh dari sini.”

“Boleh aku main ke tempatmu kapan-kapan?”

“Nanti kita akan ketemu lagi,” kataku. “Sekarang temui ayah ibumu. Beri mereka kejutan dengan mahkota indahmu.”

Aku pamit pulang. Sebetulnya aku tidak pulang, hanya menghilang dari pandangannya. Ia tampak agak murung ketika aku menghilang, tetapi hanya sesaat. Dan aku senang melihat wajahnya tampak gembira lagi. Kurasa sekarang ia sudah memahami kata-kataku bahwa setiap kali ia merasa sedih, ia bisa belajar menjadi pemberani dan sabar.

Di gubuk kecil, ayah dan ibunya melihat si penari kecil berjalan mendekat. Mahkota di kepala gadis itu memancarkan cahaya terang.

“Mahkotamu bagus sekali,” kata ibunya ketika gadis itu sudah tiba di gubuk tempat mereka istirahat. “Kau tahu cara merawatnya?”

“Ya, aku sudah tahu rahasianya,” kata penari kecil itu.

“Boleh kutahu?” tanya ibunya.

“Tidak boleh, itu rahasia kami berdua,” kata penari kecil.

Ibunya tertawa dan menyodorkan minuman kepadanya. Aku senang menyaksikan penari kecil itu dan ibunya. Perempuan itu tetap cantik seperti bertahun-tahun lalu ketika ia masih gadis kecil seumuran anaknya. Dulu aku juga pernah menemuinya dan memberikan mahkotaku kepadanya. Kusampaikan juga kepadanya rahasia untuk membuat mahkota di kepalanya selalu bercahaya. Rupanya ia melakukan dengan baik sampai sekarang. Karena itulah wajahnya selalu cantik.

Aku sudah bertemu banyak orang dan sudah kukatakan kepadamu bahwa orang-orang yang bahagia, yang selalu menyimpan pikiran baik di benaknya, selalu tampak lebih cantik. 



Powered by Blogger.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design