Keledai Dungu dan Salah Kaprah Tentangnya.


Pernahkah anda memiliki pengalaman  dalam memotivasi orang lain untuk berubah ? Bisa jadi itu pengalaman yang sangat mengesalkan bagi anda. 

Contohnya begini. Anda barangkali pernah berkali-kali menasihati atau menyarankan seseorang untuk mengubah perilakunya, tetapi orang itu malah berkali-kali pula mengulangi perilaku yang sama, seolah-olah ia tak punya samasekali kemampuan untuk menerima  nasihat atau saran. 

Ia menjadi orang yang merampok habis kesabaran anda karena betul-betul tak bisa diberitahu atau disuruh. Dalam keadaan seperti itu anda akan cenderung menyamakan perilakunya dengan keledai. Kenapa ? sebab berkali-kali ia terperosok di lubang yang sama. Barangkali begitu kepercayaan yang anda yakini selama ini tentang keledai dan kedunguan.

Tetapi pernakah kita menanyakan kepada seseorang atau mencari tahu (dari manapun sumber pengetahuannya) bahwa analogi itu sebenarnya keliru samasekali, sebab ternyata keledai bukanlah hewan yang sedungu anggapan klasik kebanyakan orang. Konon seekor keledai justru tidak pernah jatuh ke lubang yang sama dua kali. Kalau dalam bahasa perbankan, keledai ini adalah sungguh-sungguh hewan yang sangat prudent (memiliki sifat sangat berhati-hati sebelum bertindak). Dan dalam banyak hal justru sifat terlalu hati-hati itu bisa jadi menguras kesabaran pemiliknya. Tetapi faktanya jelas bahwa ia bukan hewan dengan karakter bawaan seperti yang banyak dikatakan dalam pepatah yang salah kaprah itu.

Jadi ketika anda menghadapi seseorang yang semacam itu maka anda sebenarnya tidak sedang menghadapi keledai. Anda hanya akan sering menghadapi orang yang berkali-kali terperosok ke lubang yang sama, karena mereka meyakini satu pola berpikir tertentu, mengembangkan satu kepercayaan (beliefs) tertentu yang digunakan untuk menghadapi kenyataan di depannya, mengikat kuat pikirannya hanya pada satu pandangan dunia tertentu, dan kemudian menggunakannya sebagai satu-satunya panduan berperilakunya.

Maka dalam konteks terapi, anda harus mengeluarkan mereka dari “area nyaman” itu, jika perlu memberi mereka tsunami yang akan menghancurkan “istana lama” mereka, sehingga mereka mau berpindah ke wilayah lain dan membangun istana lain dan mengatur ulang segala sesuatu dari istana baru itu.

Itulah tantangan terpenting bagi seorang terapis. Yaitu bagaimana meyakinkan orang untuk berpindah dari area nyaman mereka. Jika mereka tidak merespons ajakan anda, maka seluar-biasa apa pun sugesti, saran, atau nasihat anda, hasilnya akan jauh dari mencukupi. 

Karena itu jelas disampaikan di sini bahwa yang terpenting dalam setiap pekerjaan terapi (khususnya yang menggunakan metode hipnotik) adalah RESPONS pasien. Dan kecakapan utama seorang terapis adalah kecakapan untuk membuat pasien mau untuk secara “sukarela” merespons sugesti-sugestinya. 

Itu karena pada intinya tujuan psikoterapi adalah untuk membantu pasien dalam cara yang bisa mereka terima. Bukan sebaliknya.

Salam,
Sumiharso, M.Sc (Psych), C.Ht - praktisi psikologi dan hipnoterapi

Powered by Blogger.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design