Salah Pilih Jurusan Kuliah (seri pertama dari tiga tulisan)


Tulisan dibawah ini saya buat untuk menjawab pertanyaan beberapa orang tua siswa yang datang ke private practice saya untuk keperluan tes bakat-minat dalam rangka penjurusan studi anak-anaknya. Namun demikian bagi rekan-rekan yang lain juga dapat menjadikannya sebagai salah satu informasi tambahan untuk memperkaya wawasan.

Pertanyaan pertama : seberapa penting faktor kepribadian berpengaruh terhadap kesuksesan studi di perguruan tinggi ?

Pertanyaan kedua : anak saya memilih jurusan yang tidak ngetrend saat ini. Apakah kelak anak saya bisa sukses ?

Pertanyaan ketiga : apa artinya panggilan hidup atau panggilan jiwa (passion) ?

Baiklah akan saya jawab satu per satu.

Pertanyaan pertama : seberapa penting faktor kepribadian berpengaruh terhadap kesuksesan studi di perguruan tinggi ?

Jawaban : sangat penting.

Ya, saya katakan sangat penting. Sebab jika ita mau merujuk pada hasil riset yang dilakukan oleh Profesor Lawrence K. Jones, Ph.D, seorang guru besar psikologi di fakultas pendidikan di North Carolina State University maka saya percaya wawasan kita akan lebih terbuka. Dalam penelitiannya yang dilakukan bersama timnya selama lebih dari 10 tahun ternyata ditemukan fakta bahwa mahasiswa yang memilih jurusan kuliah yang sesuai (atau cocok) dengan profil kepribadiannya cenderung :
  1. Memperoleh indeks prestasi akademik yang lebih tinggi
  2. Tetap belajar pada jurusan yang dipilih pada awal masuk kuliah sampai dengan lulus (disebut dengan konsistensi bidang studi)
  3. Lulus tepat waktu
  4. Lebih puas dan sukses dalam karir di pekerjaan selepas lulus kuliah.

Yang menariknya adalah fakta ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh departemen pendidikan Amerika Serikat melalui Pusat Statistik Pendidikan Nasional AS th 2013 tentang lama studi mahasiswa strata-1, dimana ditemukan fakta bahwa :
  1. Hanya 39% mahasiswa yang lulus dalam waktu 4 tahun (semuanya memiliki kecocokan antara profil kepribadian dengan jurusan kuliahnya), sementara 61% sisanya menyelesaikan studinya dalam waktu lebih dari 4 tahun (derajat kecocokan antara profil kepribadian dengan jurusan kuliahnya sangat beragam)
  2. 59% mahasiswa menyelesaikan studinya dalam waktu 6 tahun
  3. 40% mahasiswa terpaksa di-DO (drop out) dari program strata-1 (mayoritas karena ketidakcocokan antara profil kepribadian dengan jurusan kuliahnya).

Namun demikian masalahnya tidak hanya berhenti sampai disini saja. Sebab ketika seorang mahasiswa memutuskan untuk berganti atau pindah jurusan kuliah, menyelesaikan studi dalam waktu yang lebih lama (dari waktu yang seharusnya atau umumnya), atau bahkan harus mengalami drop out, ternyata hal itu juga berdampak pada hilangnya kesempatan mereka untuk memperoleh pendapatan sampai dengan sekira 460 juta rupiah (Allen dan Robbins dalam Jurnal Konseling Psikologi th 2010).

Lho, koq bisa ? Bagaimana fenomena ini bisa dijelaskan ?

Simple saja. Menurut penelitian tersebut dijelaskan bahwa mahasiswa yang memilih jurusan kuliah yang sesuai dengan profil kepribadian mereka maka dalam menjalani proses belajar di bangku kuliah mereka ini cenderung akan lebih merasa puas (dengan pelajaran/jurusan yang mereka pilih), lebih tertantang dan termotivasi untuk belajar, dan memiliki semangat yang lebih besar untuk mendapatkan nilai akademik yang tinggi.

Hal-hal inilah yang kemudian pada gilirannya berdampak langsung pada kecepatan mereka dalam menyelesaikan pelajarannya di bangku kuliah. Dampak paling akhir adalah ketika mereka mampu menyelesaikan studi dalam waktu yang lebih cepat dan dengan nilai akademik yang lebih tinggi, maka potensi mereka untuk mendapatkan pekerjaan atau karir yang mereka inginkan pasca kelulusan juga akan menjadi lebih besar.

Jadi, ketika jurusan yang dipilih oleh seorang mahasiswa itu tidak selaras (atau istilah teknisnya tidak KONGRUEN) dengan profil kepribadiannya, maka mahasiswa tersebut akan cenderung menghabiskan waktu lebih banyak untuk “mencocok-cocokkan atau mengepas-ngepaskan” kepribadiannya dengan tuntutan tugas-tugas kuliah.

Contohnya begini. Bayangkan misalnya ketika seorang mahasiswa yang profil kepribadiannya sangat ekstravert, dinamis, aktif, senang ngobrol, dan cepat bosan dengan situasi rutin kemudian harus menjalani tugas-tugas praktikum didalam laboratorium kimia yang umumnya menuntut kehati-hatian yang ekstra, mengharuskan untuk cermat sebelum bertindak, memerlukan ketelitian tinggi, dan harus tahan dalam situasi monoton. Maka dapat diprediksikan mahasiswa tersebut akan mengalami situasi konflik yang sangat besar dalam dirinya antara menampilkan profil kepribadian alaminya dengan memaksa dirinya untuk berperilaku mengikuti tuntutan tugas praktikum tersebut. Bukan hal yang mudah tentunya.

Inilah yang kemudian oleh dua orang ahli psikologi Amerika Serikat, Jeff Allen dan Steve Robbins dijadikan sebagai dasar penelitian mereka tentang kongruensi (atau keselarasan antara profil kepribadian dan jurusan kuliah) dengan keajegan (atau konsistensi dalam menjalani belajar pada jurusan yang dipilih).

Dalam risetnya itu kedua orang ahli ini mengambil sampel sebanyak 47.914 mahasiswa strata-1 yang sedang menempuh studi di 25 perguruan tinggi di AS.

Dan hasilnya sudah dapat ditebak : mahasiswa yang memiliki derajat kesesuaian atau kongruensi yang tinggi diantara profil kepribadiannya dengan jurusan kuliah yang dipilih akan cenderung punya nilai akademik (kalau disini disebut IPK) yang lebih tinggi, lulus lebih cepat, dan tidak mengalami nasib di-DO.

Sementara semakin rendah derajat kongruensi diantara profil kepribadiannya dengan jurusan kuliah yang dipilih maka mahasiswa tersebut akan berpotensi lebih besar untuk mendapatkan IPK yang lebih rendah, lebih lama lulusnya, dan besar kemungkinan mengalami nasib di-DO dari kampusnya.

Jadi, masihkah kita sebagai orang tua akan membiarkan putra-putra kita memilih jurusan kuliah yang bertentangan dengan profil kepribadiannya ? Terserah anda …..
(Bersambung untuk jawaban pertanyaan kedua dan ketiga)

Powered by Blogger.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design