Sinopsis Konflik Israel - Palestina

Berikut ini adalah sinopsis singkat dari sejarah konflik ini. Sinopsis ini saya susun berdasarkan studi pustaka secara ekstensif yang saya lakukan dengan menelusuri berbagai dokumentasi sahih dari kedua belah pihak. Termasuk berbagai propaganda yang menyelimuti konflik ini juga telah saya kaji secara mendalam. Namun demikian saya merekomendasikan agar anda juga membaca laporan yang jauh lebih rinci bertajuk : The Origin of the Palestine-Israel Conflict (Asal Usul Konflik Palestina-Israel) yang ditulis oleh sekelompok peneliti dari JEWS FOR JUSTICE IN THE MIDDLE EAST (Dari Yahudi untuk Keadilan di Timur Tengah). Anda dapat mengunduh buku bagus ini disini :

Asal-Usul Konflik Israel-Palestina

Ini penting saya sampaikan agar anda yang benar-benar ingin mencari kebenaran (bukan sekedar membuat komentar “asal bunyi” dan “nyinyir tanpa dasar”) dapat memperoleh jawaban yang sahih dan dapat diandalkan. 

Dan khusus bagi anda umat beragama (apapun) yang tidak memiliki akses ke sumber-sumber primer tentang bagaimana konflik ini bermula, atau anda yang hanya bermodalkan berita terjemahan dari media arus utama atau informasi kelas copy paste di media sosial, atau anda yang tidak memiliki kefasihan berbahasa asing dan wawasan geopolitik yang mencukupi tentang kawasan Timur Tengah (yangmana hal ini sangat diperlukan untuk membedah berbagai dokumentasi orisinil Berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya yang membahas tentang konflik Palestine-Israel), maka saran saya hanya satu : tolong anda tahan lisan dan jari-jari anda dari membuat komentar yang serampangan dan tanpa dasar. Lebih baik anda diam dan menyimak dengan baik !

Hari-hari ini kita membaca tentang konflik yang semakin memanas dan telah menelan banyak korban di kedua belah pihak. Muncul pertanyaan : benarkah ini konflik berbasis agama yang telah berlangsung ratusan tahun sebagaimana disampaikan oleh beberapa kalangan ? 

Baiklah saya akan mulai pemaparan sinopsis ini. 

Selama berabad-abad lamanya, khususnya sebelum abad ke-19 justru tidak pernah ada konflik di kawasan yang saat ini sedang diperebutkan oleh Israel dan Palestina. Pada abad ke-19, tanah Palestina telah didiami oleh populasi dari beragam etnis (multikultural) yang terdiri atas sekitar 86 % Muslim, 10 % Kristen, dan 4 % Yahudi. Pada saat itu mereka hidup dengan tenang dan dalam suasana damai. Tidak ada persoalan samasekali terkait konflik berdasarkan agama. 

Zionisme

Pada akhir tahun 1800-an sekelompok orang yahudi dari Rusia dan Eropa Timur memutuskan untuk menjajah tanah yang damai dan tenang ini. Mereka inilah yang saat ini dikenal sebagai ZIONIS. Mereka ini sebenarnya mewakili minoritas ekstremis dari populasi Yahudi. Tujuan mereka adalah untuk menciptakan “ satu tanah air “ bagi bangsa Yahudi. Sebelumnya mereka telah mempertimbangkan lokasi yang tepat untuk tujuan itu, yaitu di Afrika dan Amerika, sebelum pada akhirnya mereka memilih untuk menetap di Palestina. Anda bisa melihat lini masa Peta Palestina secara kronologis dibawah ini.

Pada awalnya, arus imigrasi dari Eropa ini tidak terlalu menimbulkan masalah, karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak. Namun seiring dengan berjalannya waktu karena semakin banyak zionis yang berimigrasi ke Palestina – dan dengan tujuan utama untuk mengambil alih tanah untuk pendirian negara Yahudi – maka penduduk pribumi yang telah berabad-abad lamanya mendiami Tanah Palestina menjadi semakin khawatir. Akhirnya, konflik pun pecah bersamaan dengan gelombang kekerasan oleh imigran Yahudi yang juga semakin meningkat. Naiknya Adolf Hitler ke puncak kekuasaan Jerman yang dikombinasikan dengan aktivitas Zionis untuk menyabotase upaya untuk menempatkan pengungsi Yahudi di negara-negara barat, pada akhirnya menyebabkan peningkatan imigrasi Yahudi ke Palestina. Dan konflik pun semakin berkecambah.

Rencana Partisi PBB

Akhirnya, pada tahun 1947 Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan untuk melakukan intervensi. Namun, alih-alih berpegang pada prinsip "penentuan nasib sendiri oleh rakyat," di mana rakyat itu sendiri yang menciptakan negara dan sistem pemerintahan yang mereka kehendaki, PBB malah memilih untuk kembali ke strategi abad pertengahan dimana kekuatan luarlah yang justru berperan besar membagi tanah milik orang lain. Dibawah tekanan zionis yang cukup besar, PBB kemudian merekomendasikan untuk menyerahkan 55% dari Tanah Palestina kepada Negara Yahudi - terlepas dari fakta bahwa kelompok yang disebut terakhir ini hanya mewakili sekitar 30% saja dari total populasi yang ada di Palestina, dan kepemilihan mereka atas tanah Palestina hanyalah dibawah 7%.

Perang 1947-1949

Meskipun secara luas dilaporkan bahwa perang yang kemudian meletus akibat ulah aneksasi Tanah Palestina ini melibatkan lima negara Arab, tetapi ada fakta yang kurang diketahui oleh dunia internasional. Hal itu adalah kenyataan bahwa selama perang ini jumlah pasukan Zionis justru melebihi jumlah gabungan dari semua pejuang Arab dan Palestina. Bahkan jumlahnya mencapai 2-3 kali lebih banyak dari jumlah gabungan pejuang Arab dan Palestina. Selain itu, tentara Arab yang terlibat dalam perang ini pada faktanya tidaklah sedang menginvasi Israel. Yang benar adalah hampir semua pertempuran terjadi di tanah yang dulunya adalah Negara Palestina !

Terakhir, dan ini penting untuk dicatat adalah bahwa negara-negara Arab ikut masuk kedalam konflik ini hanya setelah peristiwa pasukan Zionis melakukan 16 kali pembantaian, termasuk pembantaian mengerikan terhadap lebih dari 100 orang pria, wanita, dan anak-anak di Deir Yassin. Perdana Menteri Israel saat itu, Menachem Begin, sebagai pemimpin dari salah satu kelompok teroris Yahudi, menggambarkan hal ini sebagai sesuatu yang "luar biasa," dan ia menyatakan : "Seperti di Deir Yassin, jadi dimana-mana, kami akan menyerang dan memukul musuh. Tuhan, Tuhan, Engkau telah memilih kami untuk penaklukan ini. ” 

Anda perlu tahu bahwa saat itu tentara Zionis telah melakukan sebanyak 33 pembantaian sekaligus ! 

Berikut ini fakta-fakta yang terjadi menjelang akhir perang 1947-1949 :

  1. Israel telah menaklukkan sekurangnya 78 % wilayah Palestina,
  2. Tiga perempat dari satu juta orang Palestina telah menjadi pengungsi,
  3. Lebih dari 500 kota dan desa telah dilenyapkan dan peta baru dibuat, dimana setiap kota, sungai, dan bukit kecil diberinama baru dalam bahasa Ibrani dengan tujuan untuk menghapus semua sisa-sisa budaya Palestina.

Setelah itu selama beberapa dekade kemudian negara Zionis Israel terus menyangkal keberadaan populasi ini (baca : Palestina). Bahkan mantan Perdana Menteri Israel Golda Meir pernah mengatakan, "Tidak ada yang namanya orang Palestina." 

Perang 1967 dan Peristiwa Penyerangan USS Liberty

Pada perang enam hari yang terjadi pada tahun 1967, Israel telah menaklukkan lebih banyak lagi tanah Palestina. Menyusul " Perang Enam Hari ", dimana pasukan Israel melancarkan serangan mendadak yang sangat sukses di Mesir, Israel menduduki 22% terakhir dari tanah Palestina yang belum berhasil mereka kuasai pada perang tahun 1947-1949, yaitu wilayah Tepi Barat (West bank) dan Jalur Gaza (Gaza Strip). Karena menurut hukum internasional bahwa suatu wilayah tidak dapat diperoleh melalui peperangan maka wilayah ini (Tepi Barat dan Jalur Gaza) adalah wilayah pendudukan dan sebenarnya bukan milik Israel. Wilayah itu sebagiannya juga diduduki oleh Mesir dan juga oleh Suriah.

Selama Perang Enam Hari itu juga, Israel telah menyerang kapal Angkatan Laut AS, USS Liberty, dimana serangan tersebut menewaskan dan melukai lebih dari 200 prajurit Amerika. Tapi anehnya Presiden Lyndon Johnson ketika mengenang momen penerbangan dalam rangka misi penyelamatan prajurit Amerika dari USS Liberty, ia malah mengatakan bahwa dia tidak ingin "mempermalukan sekutu kami". Dalam hal ini yang ia maksud sebagai "sekutu kami" adalah Israel. Betapa sebuah ironi...

Catatan khusus : Pada tahun 2004 sebuah komisi tingkat tinggi yang diketuai oleh Laksamana Thomas Moorer, mantan Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, menemukan fakta bahwa serangan oleh Israel terhadap Kapal USS Liberty ini adalah " tindakan perang melawan Amerika Serikat " (ini adalah sebuah fakta yang ramai dilaporkan oleb beberapa media berita internasional pada saat itu). Anda dapat melihat peta Palestina th 1967 dibawah ini.

Konflik Saat Ini

Ada dua masalah utama yang menjadi inti dari konflik yang terus berlanjut ini. 

Pertama, adanya efek destabilisasi yang tak terelakkan dari upaya mempertahankan negara dengan preferensi etnis tertentu, terutama bila sebagian besar etinis itu berasal dari luar negeri (baca : Yahudi Eropa). Populasi asli dari apa yang sekarang disebut sebagai Israel adalah 96 persen Muslim dan Kristen. Namun ironisnya para pengungsi ini justru dilarang kembali ke rumah mereka di Tanah Palestina. Populasi asli yang selama beraba-abad mendiami Tanah Palestina justru menjadi sasaran diskriminasi sistematis dari apa yang disebut sebagai negara Israel saat ini. 

Kedua, pendudukan militer Israel yang berkelanjutan dan penyitaan tanah milik pribadi di Tepi Barat, dan kendali atas Gaza, pada faktanya adalah sesuatu yang sangat menindas. Penduduk asli Tanah Palestina tidak memiliki kendali atas kehidupan mereka. Inilah fakta yang ada pada saat ini :

  1. Ribuan pria, wanita, dan anak-anak Palestina ditahan di penjara Israel. Beberapa dari mereka juga telah menjalani persidangan. Pelecehan fisik dan penyiksaan juga sangat sering terjadi,
  2. Perbatasan Palestina (bahkan perbatasan internal) dikendalikan oleh pasukan Israel,
  3. Secara berkala, pria, wanita, dan anak-anak digeledah dan orang-orang Palestina dipukuli,
  4. Wanita Palestina yang hamil dan dalam proses persalinan dicegah untuk mencapai rumah sakit (terkadang hal ini mengakibatkan kematian ibu dan bayinya),
  5. Makanan dan obat-obatan diblokir agar tidak memasuki Gaza, yang kemudian menyebabkan krisis kemanusiaan yang meningkat,
  6. Pasukan Israel menyerbu hampir setiap hari, melukai, menculik, dan terkadang membunuh penduduk.

Menurut perjanjian damai Oslo tahun 1993, wilayah ini seharusnya menjadi negara Palestina. Namun, setelah bertahun-tahun Israel terus menyita tanah Palestina dan kondisinya semakin memburuk. Merasa terus ditindas maka akhirnya penduduk Palestina memberontak. Pemberontakan ini, yang disebut "Intifada" (bahasa Arab berarti "mengguncang") dimulai pada akhir September 2000.

Keterlibatan Amerika Serikat

Keterlibatan Amerika Serikat kedalam konflik ini sebagian besar dipicu karena lobi-lobi Yahudi kepada Pemerintah Amerika Serikat. Dari hasil lobi-lobi ini pembayar pajak AS sekurangnya telah mendonasikan kepada Israel rata-rata sebesar USD 8 juta per hari. Dan memang sejak pembentukan negara zionis Israel, AS telah memberikan lebih banyak dananya kepada Israel daripada ke negara-negara lain. Ketika orang-orang Amerika belajar tentang bagaimana Israel menggunakan setiap dolar dari uang pajaknya, banyak warga Amerika yang kemudian menyerukan untuk diakhirinya pengeluaran ini (baca : bantuan keuangan kepada Israel).

Jika anda benar-benar penasaran bagaimana lobi-lobi Yahudi menyetir Pemerintah AS, saya merekomendasikan agar anda juga membaca laporan yang jauh lebih rinci bertajuk : 

  1. The Origin of the Palestine-Israel Conflict (Asal Usul Konflik Palestina-Israel)
  2. Against Our Better Judgment : The Hidden History of How the U.S. Was Used to Create Israel (Menentang Penghakiman Kami yang Lebih Baik : Sejarah Tersembunyi tentang Bagaimana AS Digunakan untuk Menciptakan Israel). Anda bisa mendapatkannya disini :

Sejarah Tersembunyi Bagaimana AS Digunakan untuk Menciptakan Israel

Ki Djawan Arso




Pengadilan New Nuremberg 2021

The New Nuremberg Trials 2021 - Silakan Bagikan info ini !

Pengadilan New Nuremberg 2021

Sebuah tim yang terdiri lebih dari 1.000 pengacara top dan lebih dari 10.000 pakar medis yang dipimpin oleh Pengacara HAM dari Jerman yaitu DR. Reiner Fuellmich telah memulai proses hukum terhadap CDC (Center for Disease Control and Prevention), WHO (World Health Organisation) & Davos Group atas tuduhan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (Crimes Against Humanity). Fuellmich dan timnya mempresentasikan tentang kesalahan penggunaan tes PCR sebagai penentu kasus Covid-19 dan adanya perintah terhadap para dokter untuk memberi label kematian sebagai kematian akibat Covid-19. Padahal fakta yang yang sesungguhnya adalah kematian karena penyakit komorbid (dengan kata lain " di-covid-kan "). Ini jelas-jelas suatu penipuan. 

Tes PCR sejatinya tidak pernah dirancang untuk mendeteksi patogen. Tes PCR juga telah terbukti 100% salah atau tidak akurat pada cycle 35. Semua tes PCR yang diawasi oleh CDC ditetapkan pada cycle 37 hingga 45. CDC mengakui bahwa tes apapun yang lebih dari 28 cycle, hasilnya tidak dapat diterima dan tidak dapat diandalkan untuk dinyatakan sebagai kasus positif. Dengan argumen ini saja maka dapat membatalkan lebih dari 90% kasus dugaan covid atau "infeksi" yang dilacak dengan penggunaan alat tes yang salah ini.

Selain tes PCR yang cacat dan sertifikat kematian yang palsu, kasus penggunaan vaksin "eksperimental" atau masih dalam tahap "percobaan" itu sendiri juga jelas-jelas melanggar Pasal 32 Konvensi Jenewa.

Berdasarkan Pasal 32 Konvensi Jenewa-IV Tahun 1949, dinyatakan bahwa “mutilasi dan eksperimen medis atau ilmiah yang tidak diharuskan oleh perawatan medis dari orang yang dilindungi” adalah dilarang. Menurut Pasal 147, melakukan percobaan biologis pada orang yang dilindungi merupakan pelanggaran berat atas konvensi ini.

Vaksin "eksperimental" melanggar semua poin dari 10 Kode Nuremberg yang dapat membawa implikasi berupa hukuman mati bagi mereka yang berusaha melanggar Hukum Internasional ini.

"Vaksin" Covid-19 telah gagal memenuhi lima persyaratan berikut untuk dapat dianggap sebagai vaksin, baik menurut definisi "percobaan" maupun definisi percobaan medis, yaitu :

1. Memberikan kekebalan terhadap virus

Apa yang diklaim sebagai "vaksin" ini sesungguhnya adalah terapi gen yang tidak memberikan kekebalan terhadap Covid-19. Meski diklaim dapat mengurangi gejala, namun dari data yang anda saat ini ternyata 60% dari pasien yang sudah mendapatkan vaksinasi tahap kedua justru membutuhkan perawatan darurat (emergency response) atau perawatan intensif di ICU dengan kasus terinfeksi Covid-19.

2. Melindungi penerima agar tidak terkena virus

Faktanya terapi gen atau yang diklaim sebagai vaksin ini tidak memberikan kekebalan, dan meski dengan vaksinasi tahap kedua pun seseorang masih dapat terinfeksi dan menyebarkan virus.

3. Mengurangi kematian akibat infeksi virus

Faktanya terapi gen atau yang diklaim sebagai vaksin ini tidak mengurangi kematian akibat infeksi. Orang yang telah menerima vaksinasi tahap kedua dan masih dapat terinfeksi Covid-19 pun juga tetap meninggal.

4. Mengurangi sirkulasi virus

Faktanya, terapi gen atau yang diklaim sebagai vaksin ini masih memungkinkan penyebaran virus karena tidak memberikan kekebalan terhadap virus.

5. Mengurangi penularan virus

Faktanya terapi gen atau yang diklaim sebagai vaksin ini masih memungkinkan penularan virus karena memang tidak memberikan kekebalan terhadap virus.

Pelanggaran Kode Nuremberg yang dimaksud adalah sebagai berikut :

Kode Nuremberg # 1: Persetujuan Sukarela itu Penting

Tidak ada seorang pun yang boleh dipaksa untuk melakukan percobaan medis tanpa persetujuan sukarela dari dirinya sendiri. Tapi faktanya, banyak sekali media, politisi, dan orang-orang non-medis yang justru menyuruh orang lain untuk menerima atau mengikuti suntikan vaksin eksperimen ini. Mereka tidak memberikan informasi mengenai efek samping atau bahaya dari terapi gen ini. Yang anda dengar dari mereka hanyalah kalimat seperti : " aman dan efektif " dan " manfaat lebih besar daripada risikonya." Negara-negara bahkan menggunakan taktik penguncian wilayah (lockdown), paksaan (coercion), dan ancaman (intimidation) untuk memaksa orang menggunakan vaksin ini atau melarang orang-orang untuk berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat bebas dengan dalih mereka harus memamtuhi aturan wajib memiliki Paspor Vaksin atau Tiket Hijau. Selama persidangan Nuremberg pertama yang terjadi pada 75 tahun yang lalu, media massa bahkan dituntut dan anggotanya dihukum mati karena berbohong kepada publik, bersama dengan banyak dokter dan anggota-anggota NAZI yang dinyatakan bersalah atas Kejahatan Terhadap Kemanusiaan.

Kode Nuremberg # 2: Menghasilkan Hasil yang Bermanfaat yang Tidak Dapat Dicapai atau Diperoleh Dengan Cara Lain

Seperti yang telah disebutkan di atas, terapi gen yang diklaim sebagai vaksin covid-19 ternyata tidak memenuhi kriteria sebagai vaksin dan tidak menawarkan kekebalan terhadap virus. Faktanya ada sangat banyak metode atau cara perawatan medis lainnya yang dapat memberikan hasil bermanfaat untuk melawan Covid, seperti misalnya penggunaan Ivermectin, Vitamin D, Vitamin C, Zinc, Herbal, meditasi, dan beragam cara lainnya untuk meningkatan sistem kekebalan tubuh terhadap flu dan pilek.

Kode Nuremberg # 3: Mendasarkan Eksperimen pada Hasil Eksperimen Pendahuluan Yang Dilakukan pada Hewan dan memperhatikan Sejarah Alami Penyakit

Alih-alih melakukan eksperimen pendahuluan pada hewan percobaan, para perancang terapi gen yang diklaim sebagai vaksin ini justru langsung melakukan uji coba pada manusia. Dalam sebuah penelitian m-RNA yang digunakan oleh Pfizer - yaitu sebuah studi tentang mRNA pada rhesus monyet macaques menggunakan BNT162b2 m-RNA, ternyata ditemukan fakta bahwa dalam penelitian tersebut semua monyet yang diteliti mengalami peradangan pada paru-paru. Tetapi para peneliti hanya menganggap risikonya rendah karena ini adalah monyet muda yang sehat dari usia 2-4 tahun. Israel telah menggunakan vaksin Pfizer dan Pengadilan Hukum Internasional telah menerima klaim bahwa 80% penerima vaksin tersebut mengalami peradangan paru karena disuntik dengan terapi gen yang disebut sebagi vaksin ini. Terlepas dari perkembangan yang mengkhawatirkan ini, Pfizer justru terus mengembangkan m-RNA mereka untuk Covid-19 tanpa melalui pengujian yang memadai terlebih dahulu pada hewan percobaan.

Kode Nuremberg # 4: Hindari Semua Penderitaan dan Cedera yang Tidak Perlu

Sejak peluncuran percobaan dan terdaftar dibawah sistem pelaporan efek samping vaksin yaitu sistem VAERS yang ada di CDC, lebih dari 4.000 kematian dan 50.000 cedera akibat vaksin telah dilaporkan di Amerika. Di Uni Eropa sendiri lebih dari 7.000 kematian dan 365.000 cedera akibat vaksin telah dilaporkan. Ini adalah pelanggaran yang serius terhadap kode ini.

Kode Nuremberg # 5: Tidak Ada Eksperimen yang Harus Dilakukan jika Ada Alasan untuk Berpikir bahwa Cedera atau Kematian Akan Terjadi

Lihat poin # 4. Berdasarkan data medis berbasis fakta, terapi gen yang disebut sebagai vaksin ini justru telah menyebabkan kematian dan cedera. Penelitian sebelumnya tentang m-RNA juga menunjukkan beberapa risiko yang telah diabaikan untuk percobaan terapi gen saat ini. Sebuah studi pada tahun 2002 tentang protein spike SARS-CoV-1 menunjukkan bahwa hal itu telah menyebabkan peradangan, imunopatologi, pembekuan darah, dan menghambat ekspresi Angiotensin 2. Eksperimen ini justru memaksa tubuh untuk memproduksi protein spike yang mewarisi semua risiko ini.

Kode Nuremberg # 6: Risiko Tidak Boleh Melebihi Manfaatnya (Madharatnya Tidak Boleh Lebih Besar Dari Maslahatnya)

Faktanya, Covid-19 memiliki tingkat pemulihan/kesembuhan 98-99%. Sedangkan cedera akibat vaksin, kematian dan efek samping yang merugikan dari terapi gen atau vaksin m-RNA jauh melebihi risiko ini. Penggunaan vaksin yang dilarang untuk penggunaan pertanian oleh AS dan UE karena studi Marek Chicken yang menunjukkan adanya 'virus panas' dan varian baru yang muncul, membuat penyakit ini semakin mematikan. Namun, hal ini telah diabaikan oleh CDC untuk digunakan pada manusia karena mengetahui sepenuhnya risiko varian baru yang lebih mematikan muncul dari vaksinasi. Meski CDC sangat menyadari bahwa penggunaan vaksin yang memfasilitasi munculnya strain baru yang lebih berbahaya, namun terkait penggunaan pada manusia, mereka justru telah mengabaikan hal ini.

Kode Nuremberg # 7: Persiapan Harus Dilakukan Terlebih Dahulu Untuk Mengantisipasi Kemungkinan Cedera, Cacat atau Kematian

Untuk hal ini justru tidak ada persiapan yang dilakukan. Terapi gen yang disebut sebagai vaksin ini malah melewatkan fase uji coba pada hewan terlebih dahulu. Perusahaan-perusahaan farmasi yang melakukan uji klinis pada manusia sampai tahap 3 prosesnya belum akan selesai hingga tahun 2022/2023. Sementara vaksin ini telah disetujui untuk digunakan hanya dengan dasar Persetujuan Untuk Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization) dan dipaksakan pada publik yang salah informasi (misinformed). Vaksin ini samasekali TIDAK disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration).

Kode Nuremberg # 8: Eksperimen Harus Dilakukan oleh Orang yang Memiliki Kualifikasi Ilmiah

Politisi, media, dan aktor yang mengklaim bahwa ini adalah vaksin yang aman dan efektif, samaseklai tidak memenuhi syarat Kode Nuremberg #8 ini. Ingat, Propaganda bukanlah ilmu kedokteran. Banyak gerai ritel seperti Walmart & pusat vaksin drive-through yang tidak memenuhi syarat untuk memberikan terapi gen atau vaksin medis eksperimental justru melakukan hal ini kepada masyarakat yang kurang informasi.

Kode Nuremberg # 9: Siapapun Harus Memiliki Kebebasan untuk Mengakhiri Eksperimen Setiap Saat

Meskipun ada protes dari lebih 85.000 dokter, perawat, ahli virologi dan ahli epidemiologi, percobaan ini ternyata belum berakhir juga. Faktanya, saat ini banyak upaya untuk mengubah undang-undang untuk memaksa kepatuhan terhadap vaksinasi. Ini termasuk vaksinasi wajib dan paksa. Pembaruan vaksinasi direncanakan untuk diberikan setiap 6 bulan tanpa ada pertimbangan apapun atas meningkatnya jumlah kematian dan cedera yang telah disebabkan oleh eksperimen ini. Suntikan 'pembaruan' ini juga akan diberikan tanpa uji klinis apapun. Semoga Pengadilan Nuremberg yang baru ini akan dapat mengakhiri kejahatan terhadap kemanusiaan ini.

Kode Nuremberg # 10: Ilmuwan Harus Mengakhiri Eksperimen Kapan Saja jika Ada Kemungkinan Penyebabnya Yang Mengakibatkan Cedera atau Kematian

Jelas dalam data pelaporan statistik bahwa eksperimen ini mengakibatkan kematian dan cedera. Meski begitu, semua politisi, perusahaan obat, dan mereka yang disebut pakar justru tidak berusaha untuk menghentikan eksperimen terapi gen ini agar tidak membahayakan publik yang salah informasi (misinformed).

Lantas apa yang dapat anda lakukan untuk membantu mengakhiri kejahatan terhadap kemanusiaan ini ? Bagikan informasi ini. Mintalah pertanggungjawaban politisi, media, dokter, dan perawat anda. Jelaskan pada mereka bahwa jika mereka terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan ini, mereka juga tidak bisa mengelak dari tuntutan hukum. Artinya mereka harus tetap tunduk pada undang-undang yang ditetapkan dalam Konvensi Jenewa dan Kode Nuremberg. Dan itu artinya mereka dapat dituntut, diadili, dinyatakan bersalah, dan dihukum mati. Saat ini proses hukum sedang berjalan, bukti-bukti telah dikumpulkan dan banyak ahli yang terus membunyikan alarm tanda bahaya atas terapi gen yang disebut vaksin covid-19 ini.

Kunjungi situs web Komite Covid di tautan berikut ini :

Komite Covid

Dan jika anda telah terdampak oleh kejahatan terhadap kemanusiaan ini, segera laporkan kejadian, orang-orang yang terlibat, dan nyatakan sedetail mungkin kasus yang anda alami ke situs web berikut :

Whistle Blower

Kejahatan terhadap kemanusiaan jelas mempengaruhi dan berdampak kepada kita semua. kejahatan terhadap kemanusiaan adalah kejahatan terhadap anda, anak-anak anda, orang tua anda, kakek-nenek anda, komunitas anda dan negara anda serta masa depan anda. Apakah anda masih diam saja dan tidak peduli ?

Untuk melihat video asli pernyataan DR. Reiner Fuellmich terkait persidangan Nuremberg 2021 silakan ikuti tautan berikut ini :

Video DR. Reiner Fuellmich 

Membongkar Kebohongan Pandemi Covid-19 ( Part - 5 - Tamat )

Akhirnya, Tahukah Anda ?

1. Suntikan vaksin Covid-19 dipasarkan tanpa uji keamanan yang memadai. Fauci menegaskan hal ini, dan bahwa antibodi / antigen untuk SARS-CoV-2 ditemukan dalam air liur (saliva), membuat penggunaan masker menjadi kontraproduktif untuk tujuan mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Sementara, dalam pernyataan resminya tentang misi CDC, tercatat seperti ini :

“ Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) adalah lembaga yang dipercaya orang Amerika dengan kehidupan mereka. Sebagai pemimpin global dalam kesehatan masyarakat, CDC adalah lembaga promosi, pencegahan, dan kesiapsiagaan utama negara. Apakah kita melindungi rakyat Amerika dari ancaman kesehatan masyarakat, meneliti penyakit yang muncul, atau memobilisasi program kesehatan masyarakat dengan mitra domestik dan internasional kita, kita mengandalkan karyawan kita untuk membuat perbedaan nyata dalam kesehatan dan kesejahteraan orang-orang di sini dan di seluruh dunia."

Persis seperti peribahasa : " Lain Perkataan, Lain Perbuatan " ?

2. Jual beli vaksin dengan harga yang sudah digelembungkan (markup), sekitar $ 4,6 Miliar setiap tahun, dan CDC memiliki lebih dari 20 paten vaksin - menurut Robert F. Kennedy Jr. dan terdaftar di Dun & Bradstreet. Fauci sendiri secara pribadi memiliki 1000 paten. 

3. Formulir izin vaksinasi di rumah sakit menyamarkan istilah vaksin sebagai "biogenik", dan makelar pengadaan darah telah membayar hingga $ 1.000 untuk sampel darah orang yang telah pulih dari Covid-19.

4. Memberlakukan vaksinasi wajib pada seseorang adalah bertentangan dengan Kode Nuremberg, dan Formulir izin vaksinasi menggantikan kebijakan publik. Undang-undang federal melarang majikan dan orang lain menggunakan vaksin di bawah EUA sebagai syarat kerja. Seorang pengacara di Nevada siap perang melawan para penjahat medis seperti ini. Setiap negara bagian di AS memiliki ketentuan uniknya sendiri untuk menolak vaksin dengan alasan medis, agama, atau filosofis

5. Donald Trump mengagumi kenyataan bahwa dia mendorong Warp Speed ​​dan mendorong para pendukungnya untuk melakukan vaksinasi. Sementara itu Joe Biden mengatakan bahwa dia telah memesan 100 juta dosis vaksin. Ini persis sebuah peribahasa : " Sama Kotornya, Hanya Beda Baunya ". Paham ?

6. WHO berkali-kali melarang pemakaian masker oleh orang sehat, apalagi anak-anak. Tapi pernyataan mereka berubah-ubah sepanjang waktu. Plin-plan. Tidak jelas dan membingungkan. Apa harus seperti ini kualitas lembaga internasional ?

7. Beberapa "simulasi" pandemi diadakan di :

- Mei 2018, namanya simulasi Clade X oleh Universitas Johns Hopkins

- September 2019. Badan Pemantau Kesiapsiagaan Global WHO (dalam sesi yang diduga sebagai simulasi lain pandemi) memasukkan sebagai salah satu indikator kemajuan program mereka adalah pelepasan dua patogen mematikan pada September 2020. Lihat halaman 39.

- 2018. INSTITUTE FOR DISEASE MODELING milik Bill Gates merilis video modeling pandemi yang dimulai di Wuhan, Cina.

- Oktober 2019. Si Pembohong, Bill Gates, mensponsori acara Latihan Pandemi Global 201 atau Event-201. Ini video rekamannya. Fauci, tentu saja, duduk di Dewan Pimpinan Yayasan Bill & Melinda Gates, yang telah menyumbangkan lebih dari $ 3,5 juta untuk lembaga NIH milik Fauci.

8. Suntikan Vaksin Pfizer, Moderna, dan J&J dikembangkan menggunakan sel fetal janin, yaitu sel yang ditumbuhkan di laboratorium yang awalnya diperoleh dari janin yang diaborsi pada beberapa dekade yang lalu. Argumen yang digunakan oleh pro-vaxers adalah bahwa ini bukan sel asli, tetapi turunan atau duplikat dari yang asli. Istilah medis bisa bervariasi tergantung pada jumlah dan organ janin yang diaborsi. Anda berhak menolak vaksin apapun yang dikembangkan dengan atau mengandung sel fetal janin, berdasarkan keyakinan agama atau filosofis Anda.

9. Lockdown tidak berpengaruh pada tingkat kematian. Berikut laporan lainnya. 

10. Pada Maret 2020, Pemerintah Inggris membahas taktik yang akan digunakan untuk memastikan warga negara mematuhi kehilangan hak dan kebebasan mereka dan ini termasuk.

11. Pada Maret 2020, Pemerintah Inggris membahas taktik yang akan digunakan untuk memastikan warga negaranya mematuhi aturan yang konsekuensinya mereka akan kehilangan hak dan kebebasannya. Ini termasuk :

  • Menggunakan media untuk meningkatkan rasa ancaman terhadap pribadi.
  • Menggunakan media untuk meningkatkan rasa tanggung jawab kepada orang lain.
  • Menggunakan dan mempromosikan persetujuan sosial untuk perilaku yang diinginkan.
  • Menggunakan ketidaksetujuan sosial bagi mereka yang tidak patuh.

Ini dokumennya, dan wanita yang disewa National Health Systems untuk mengotak-atik angka kematian. Tidak mau kalah, perdana Menteri Kanada, Trudeau membanggakan betapa dia telah membayar media untuk menjual propagandanya yang sebelumnya melaporkan pada bulan April 2021 gelombang pandemi ke-4. Sementara itu Menteri Dalam Negeri Jerman telah menekan ahli epidemologi untuk menciptakan ketakutan yang dengan demikian akan memudahkan untuk dikeluarkannya kebijakan lockdown oleh pemerintah Jerman.

Membongkar Kebohongan Pandemi Covid-19 ( Part -4 )

Tahukah Anda Bahwa ?

1. Cedera dan kematian akibat suntikan vaksin m-RNA terus meningkat. Data dari VAERS (Vaccine Adverse reaction Reporting Systems atau KIPI : Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) melaporkan adanya 12.619 kasus cedera serius pada 23 April 2021. Pada kuartal pertama 2021 telah terjadi peningkatan kematian sebesar 6000% karena suntikan vaksin dibanding pada periode yang sama pada tahun lalu. Secara grafis, suntikan tersebut lebih terlihat seperti potongan atas yang kaku, menurut pengacara Rocco Galati. Dan hal itu, menurut sebuah Studi yang dilakukan di Universitas Harvard, hanyalah 1% saja dari angka kematian terkait vaksin yang dilaporkan. Artinya jauh lebih banyak yang disembunyikan alias tidak dilaporkan.

2. CDC pada suatu waktu merekomendasikan DDT untuk digunakan di rumah, dan menggunakan taktik untuk memunculkan ketakutan yang sama dengan tujuan untuk menjual vaksin H1N1.

3. Banyak dokumen yang membuktikan bahwa media adalah pemain kunci dalam menciptakan kepanikan yang pada akhirnya mengarah pada promosi vaksin. Ini adalah sebuah dokumen yang menyebutkan bahwa masyarakat perlu melakukan VAKSINASI DENGAN PERCAYA DIRI yang dibuat oleh CDC. Hal yang sama juga ada di Inggris dimana pemerintah Inggris akan mencabut kebijakan lockdown dengan syarat warga harus menerima vaksinasi terlebih dahulu. Ini sebenarnya adalah strategi yang dibuat untuk membujuk warga masyarakat agar mau menerima suntikan vaksin.

4. Politisi tertangkap kamera sedang berbicara tentang sandiwara mengenakan masker. Sementara itu NCBI, sebuah divisi dari NIH, justru menerbitkan sebuah makalah tentang ketidakefektifan masker. Bahkan CDC memperingatkan tentang bahaya masker, seperti yang dilakukan dalam sebuah studi tentang Sindrom Kelelahan atau MIES (Mask Induced Exhaustion Syndrome) yang dipicu oleh penggunaan masker.

5. CDC memiliki hak paten untuk virus corona yang ditularkan ke manusia. Mereka juga memiliki hak paten untuk Sistem & Metode untuk pengetesan Covid-19 yang diajukan pada tahun 2015, dikuatkan disini, dan alat tes Covid-19 telah dikirim ke seluruh dunia pada tahun 2018. Aneh bukan ? Alat tesnya sudah dikirim ke seluruh dunia satu tahun sebelum virusnya muncul..... ? 

6. Vaksin Covid-19 dikembangkan hanya dalam beberapa jam saja. Ini buktinya.

7. Perusahaan vaksin tidak dapat dituntut atas cedera yang terjadi karena vaksinasi. Enak sekali ?

8. Bill Gates, yang menginvestasikan $ 10 Miliar ke dalam vaksin, membanggakan bagaimana ia menyuntik anak-anaknya dengan organisme hasil rekayasa genetika (GMO), dan tidak sabar menunggu pandemi berikutnya menyerang.

9. Bill Gates tercatat sebagai orang yang sangat aktif mendorong diberlakukannya paspor vaksin. Artinya ia mendorong upaya vaksinasi untuk tujuan menurunkan populasi dunia sebesar 10% sampai 15% (depopulasi). Seruan untuk penangkapan dan persidangan Bill Gates telah disampaikan oleh Sara Cunial di Pengadilan Kriminal Internasional.

© 2012 - 2019 by Sumiharso. Powered by Blogger.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design