Trust : Between Ability and Integrity


Entah di ranah kehidupan berumah tangga, bekerja, atau bermasyarakat, setiap individu perlu memiliki dan terus memelihara trust atau kepercayaan dalam interaksinya dengan orang lain.

Tidak ada relasi apapun yang mungkin dibangun tanpa adanya trust diantara pihak-pihak yang terlibat. 

Pernikahan yang bahagia dan langgeng selalu didasari oleh kepercayaan yang kuat diantara suami dan istri.

Hubungan bisnis yang lancar dan saling menguntungkan juga selalu dilandasi oleh trust yang terbentuk diantara pihak penjual dan pembeli, diantara produsen dan konsumen. 

Tertib, tenang, dan tenteramnya sebuah struktur sosial kemasyarakatan juga meniscayakan trust sebagai modal yang terpenting. Dalam hal ini rakyat memercayai pemerintah yang memimpinnya dan pemerintah memercayai dukungan penuh dari rakyatnya. Tanpa itu chaos pasti terjadi.

Tetapi sebenarnya darimana trust atau kepercayaan itu bermula ?

Secara prinsip trust dibangun diatas dua fondasi utama :

Pertama, adanya kemampuan teknis untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh pihak lain. Saya menyebutnya " Ability ". 

Ambil contoh. Seorang Tailor hanya bisa dipercaya oleh para pelanggannya jika ia mampu dan terampil dalam seluruh urusan membuat pakaian. Mulai dari mengukur, mengenali jenis kain, paham ukuran jarum dan benang, membuat pola, memotong, menjahit, mengobras dlsb. Tanpa kemampuan teknis seperti ini maka klaim bahwa ia adalah seorang tailor jempolan hanya akan dianggap OMDO alias cuma ngomong tapi minus bukti. Ini berlaku di profesi apapun, entah anda seorang tukang cilok, dokter, arsitek, atau bahkan paranormal sekalipun. Intinya anda mesti punya kemampuan teknis yang dipersyaratkan untuk bisa melakukan pekerjaan anda.

Kedua, adanya integritas didalam proses memenuhi apa yang dibutuhkan oleh pihak lain. Didalam integritas ini terkandung elemen yang juga sangat esensial, yaitu rasa menyatu dengan apa yang dikerjakan, kejujuran ( honesty ), kedisiplinan, dan kemauan yang kuat untuk memberikan product atau service yang paling baik bagi orang lain.

Ambil contoh kasus adalah pekerjaan sebagai Tailor diatas. Seseorang mungkin saja memiliki skill yang sangat bagus dalam seluruh urusan pembuatan pakaian. Tetapi apa yang akan terjadi jika ia misalnya selalu tidak tepat waktu dalam memenuhi janjinya kepada pelanggan ? Mungkin sekali dua kali anda masih akan mau menggunakan jasanya. Tetapi jika terus berulang seperti itu ( penyelesaian pesanan anda selalu mulur dari waktu yang disepakati tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan ), maka cepat atau lambat anda pasti akan berhenti menggunakan jasanya dan beralih ke tailor yang lain yang lebih disiplin dan tepat waktu. Tak peduli betapapun bagusnya secara teknis hasil kerja tailor tsb tetapi jika integritasnya kocar-kacir, maka pasti ia akan ditinggalkan oleh pelangganya.

Dalam konteks kehidupan berumah tangga juga setali tiga uang. Seorang suami yang pandai mencari duit buat mengongkosi keperluan hidup berumah tangga ( ini adalah aspek ability ), juga tetap dituntut untuk menunjukkan integritas yang tinggi kepada pasangannya. 

Apa contoh integritas dalam berumah tangga ? Banyak sekali sebenarnya. Tetapi secara umum orang menyebutnya sebagai kesetiaan ( loyalty ) dan kemauan untuk menjaga martabat diri dan keluarga dari hal-hal yang tercela ( dignity ).

Anggaplah anda mampu memberi nafaqoh ( misal duit ) kepada istri anda 3-5 X lipat dari umumnya, tetapi pada saat yang sama anda punya WIL ( wanita idaman lain ), apakah istri akan memercayai anda sebagai suami yang baik ? Juga apakah anak-anak anda akan memercayai anda sebagai ayah yang patut diteladani ? Hampir bisa dipastikan jawabannya adalah TIDAK.

Begitu pula sebaliknya. Bisa jadi anda penuh atensi dan setia pada pasangan anda. Tetapi pada saat yang sama anda malas bekerja, tidak gigih mencari peluang-peluang datangnya income, tidak kompeten dalam bekerja sehingga ujung-ujungnya nafaqoh yang anda berikan kepada istri dan anak anda kocar-kacir, maka apakah istri anda masih akan memercayai anda ? Bisa jadi ya, tapi di banyak kasus umumnya menjawab tidak.

Maka sudah seyogyanyalah jika kedua fondasi utama trust ini dapat kita bangun, kembangkan, dan pelihara sepanjang hayat. Terhadap apapun atau siapapun. 

Monkey Behind the Gun


Sore itu dengan nafas terengah-engah Hashim menemui Kyai Rahmat yang kebetulan sedang asyik membaca wirid petang. Dengan penuh kecemasan ia berkata kepada Kyai Rahmat :

" Maaf, kyai. Kyai harus cepat bertindak ! Kyai harus melakukan sesuatu. Ada seekor monyet baru saja mengambil pisau yang sangat tajam dari rumah kyai ! "

" Jangan khawatir," kata Kyai Rahmat, " Selama bukan seorang manusia yang mengambil pisau insyaallah tidak akan ada bahaya dari monyet itu."

Ketika selesai wiridan Kyai Rahmat keluar dari rumahnya dan mendapati monyet itu telah membuang pisau yang diceritakan oleh Hashim tadi.




Solusi Imajiner


Mullah Nasruddin Hoja sedang mengikuti interview untuk mendapatkan pekerjaan di sebuah kapal dagang. Dia diinterview oleh nahkoda dan beberapa pemimpin kapal lainnya.

Nahkoda bertanya," Apa yang akan anda lakukan jika suatu saat badai menyerang kapal anda sampai-sampai haluan kapal anda berubah arah ?"

Mullah Nasruddin menjawab dengan tenang, " Oh, itu mudah saja. Saya akan segera membuang jangkar. "

Nahkoda itu balas menjawab, “ Itu memang benar, tetapi bagaimana jika setelah itu ada badai menyerang kapal anda lagi ?"

" Ya saya akan membuang jangkar yang lain," kata Mullah Nasruddin datar.

Nahkoda mengejar lagi,“ Benar, tetapi bagaimana jika badai ketiga muncul dan menghajar kapal anda ? "

Kembali Mullah Nasruddin menjawab, " Jawaban saya tetap sama, tuan. Saya akan membuang jangkar yang lain."

" Lantas dari mana anda bisa mendapatkan jangkar-jangkar itu ?," tanya sang nahkoda penasaran.

" Ya tentu dari tempat yang sama dimana anda mendapatkan badai-badai itu juga, tuan !", Kata Mullah Nasruddin tegas.

Hari Mustajab


Suatu hari, Hashim bertanya kepada Kyai Rahmat :
" Kyai, hari apa yang paling mustajab untuk berdoa ?"

Kyai Rahmat menjawab :
" Anakku, hari terbaik untuk berdoa adalah hari sebelum kamu mati."

Hashim terlihat bingung. Ia lalu balik bertanya : 
" Tapi kyai, bukankah kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati ? Jadi, bagaimana saya bisa tahu bahwa hari itu adalah hari sebelum kematian saya ? "

Dengan kalem Kyai Rahmat menimpali :
" Justru karena tidak ada yang tahu hari apa kita akan mati, maka dari itu kita perlu berdoa setiap hari."

© 2012 - 2019 by Sumiharso. Powered by Blogger.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design