Dimana Tuhan ?


Saat Hashim berusia tiga belas tahun, ayahnya mengirimkannya ke sebuah pondok pesantren untuk belajar dan mendalami ilmu-ilmu agama. Ia belajar disana sampai berusia dua puluh tiga. 

Setelah menamatkan pelajarannya, ia kembali ke rumah. Ia merasa sangat bangga dengan berbagai prestasi dan keilmuan yang telah dicapainya selama di pesantren. Berbagai kitab keagamaan telah dikuasainya dengan baik.

Di hari pertama ia kembali tiba di rumah, ayahnya bertanya kepadanya :

" Anakku, bagaimana kita bisa tahu tentang sesuatu yang tidak bisa kita lihat ? Maksud ayah, bagaimana kita bisa tahu bahwa Allah, Dia Yang Maha Kuasa, ada di mana-mana ? "

Hashim kemudian menjelaskan kepada ayahnya bahwa Allah dapat diketahui dengan mudah dengan melihatnya dari dalam kitab suci Al Quran. Disana ada banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa Allah itu ada. 

Hashim kemudian mulai membaca ayat-ayat Al Quran yang menurutnya disitu terdapat pernyataan tentang keberadaan Allah. Tetapi sebelum lebih jauh ia membaca, ayahnya memotongnya :

“ Itu terlalu rumit, nak. Apakah tidak ada cara yang lebih sederhana untuk belajar tentang keberadaan Allah ? "

" Aku tidak tahu, ayah. Aku sudah lulus dari pesantren. Dan berdasarkan ilmu yang sudah aku dapatkan disana aku harus menjelaskan segala sesuatu berdasarkan kitab-kitab yang telah aku baca dan pelajari. Dan kupikir aku bisa menjelaskan keberadaan Allah dengan cara membaca ayat-ayat di Al Quran yang menjelaskan bahwa Allah itu memang ada. ", sergah Hashim.

" Berarti ayah sudah membuang-buang uang dengan mengirimkanmu ke pesantren kalau hanya seperti itu hasilnya," seru ayahnya.

Ayahnya kemudian meraih tangan Hashim, lalu membawanya ke dapur. Di sana, ayahnya kemudian mengisi sebuah baskom dengan air dan menambahkan beberapa  sendok garam kedalamnya. Setelah itu mereka berdua pergi berjalan-jalan keliling kota.

Sore hari ketika mereka sampai di rumah, ayahnya berkata kepada Hashim :
" Bawakan aku garam yang kutaruh di baskom air tadi."

Hashim kemudian mencari-cari garam yang telah ditaburkan kedalam air di baskom. Tetapi ia tidak dapat menemukannya karena garam itu sudah larut dalam air.

" Jadi, kau tidak bisa melihat garam itu lagi ?" tanya ayahnya.

" Tidak, ayah. Garam itu sekarang sudah tidak terlihat. "

" Kalau begitu kau cicipi sekarang sedikit air di permukaan baskom itu. Apa rasanya ? "

" Asin ", jawab Hashim

" Nah sekarang coba kau rasakan sedikit air dari bagian tengah baskom. Seperti apa rasanya ? "

" Asin juga, seperti rasa air di permukaan."

" Sekarang coba kau ambil air di bagian dasar baskom, lalu cicipi dan katakan pada ayah seperti apa rasanya."

Hashim mencobanya sekali lagi dan rasanya tetap asin. Persis sama dengan rasa air di bagian permukaan dan tengah baskom. 

" Kau sudah belajar selama bertahun-tahun dan masih belum juga dapat menjelaskan secara sederhana bagaimana Allah Yang Tak Terlihat itu dapat berada di mana saja sekaligus, " kata ayahnya. 

" Kau lihat, ketika garam itu telah larut didalam air maka garam itu tidak akan bisa lagi dilihat sebagai sesuatu yang terpisah dari air. Garam itu ada di setiap tetesan dan bagian air. Begitu juga dengan Allah. Ia ada di setiap ruang, waktu, dan tempat. Maka, mulai sekarang kau harus kembali belajar untuk tidak hanya mengandalkan pada pengetahuan yang tertulis didalam kitab-kitab. Tetapi cari dan renungkanlah dari segala sesuatu yang ada di sekelilingmu. Bahkan di seluruh alam semesta ini semuanya adalah pengetahuan yang sangat berharga jika kau sungguh-sungguh memerhatikannya."

© 2012 - 2019 by Sumiharso. Powered by Blogger.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design