Membongkar Kebohongan Pandemi Covid-19 ( Part - 3 )

Apakah Anda Sadar Bahwa ?

1. Tes PCR sebenarnya samasekali tidak mendeteksi keberadaan partikel SARS-CoV-2, tetapi hanya mendeteksi keberadaan partikel dari sejumlah virus yang mungkin telah menjangkiti anda di masa lalu. 

2. Tuntutan hukum atas klausul kejahatan terhadap kemanusiaan sedang diluncurkan oleh pengacara Jerman untuk penipuan ini. Bahkan DR. Anthony Fauci juga telah mengakui bahwa tes PCR tidak bekerja dengan baik. WHO pun juga mengkonfirmasi hal ini. Dalam dokumen CDC ini, pedoman pengujian menyatakan bahwa negatif atau positif palsu mungkin saja terjadi - ini ada di halaman 39. Tes PCR tidak dapat menyimpulkan secara jelas atau spesifik penyakit tertentu yang disebabkan oleh bakteri atau patogen atau virus lain - ini ada di halaman 40.

Tetapi yang paling penting adalah, pada halaman 42, disebutkan bahwa SARS-CoV-2 tidak pernah diisolasi dalam kejadian pertamanya : " Karena tidak ada isolat virus yang terkuantifikasi dari 2019-nCoV yang tersedia untuk penggunaan CDC pada saat tes dikembangkan dan pada saat penelitian ini dilakukan, maka pengujian dirancang untuk mendeteksi RNA 2019-nCoV yang diuji dengan stok berkarakteristik RNA panjang penuh yang ditranskripsikan secara in vitro ". CDC tidak dapat memberikan sampel SARS-CoV-2, begitu pula laboratorium Stanford dan Cornell, dan dalam wawancara dengan CNN Fauci mengatakan dia tidak mau dites dan tidak perlu juga mengetes orang yang tidak menunjukkan gejala. Dia menegaskan kembali bahwa orang tanpa gejala (OTG) tidak pernah menjadi pendorong pandemi atau agen penularan. Sekali lagi, WHO juga mendukungnya.

3. Ada gugatan class action yang sedang diproses, antara lain menyebut DR. Anthony Fauci sebagai pihak tergugat. Berikut sebagian daftarnya :

- Gugatan diajukan terhadap CDC karena menahan informasi secara ilegal yang sebenarnya hal itu dilarang dibawah aturan FOIA ( singkatan dari The Freedom of Information Act atau semacam UU Keterbukaan Informasi Publik),

- WHO dikenai tuntutan hukum oleh pengacara Jerman, Dr. Reiner Fuellmich, atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Ini info terbarunya.

- Sekelompok perawat menggugat CEO sebuah rumah sakit untuk kasus pabrikasi " Tes COVID-19 ",

- Sekompok guru di California menuntut karena ditekan untuk mendapatkan vaksin eksperimental. Ini siaran pers-nya.

- Pemerintah Norwegia menghadapi gugatan kejahatan terhadap kemanusiaan,

- Pemerintah Inggris akan menghadapi tuntutan hukum atas kejahatan terhadap kemanusiaan

- Sekelompok warga Israel meluncurkan gugatan hukum atas kejahatan terhadap kemanusiaan terhadap pemerintah mereka sendiri,

- Pemerintah Kanada menghadapi pertarungan hukum dari pengacara konstitusi terbaik, Rocco Galati, yang ingin melihat Bill Gates dipenjara,

- Sekelompok warga Florida menggugat Pemerintah Federal dan CDC,

- Dokter yang mengaku bersalah atas penipuan biotest,

- Pengacara Hak Asasi Manusia, Leigh Dundas, menuntut pemerintah California karena mencoba memvaksinasi anak-anak tanpa persetujuan orang tua. Dia juga memaksa Orange County untuk membatalkan program paspor vaksin.

- Sebuah firma hukum di Inggris melawan aturan yang dibuat oleh Borris Johnson yaitu " Tanpa Vaksin, Tidak Ada Pekerjaan, Tidak Ada Upah " (" No Vaksin, No Pay, No Job ")

- Petugas Polisi Kanada membawa Pemerintah Ontario ke Pengadilan.

Dan ini baru pemanasan. Jika warga negara Israel saja telah berhasil membawa pemerintah mereka ke Pengadilan Kriminal Internasional atas tuntutan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, dengan tuduhan bahwa mereka dipaksa untuk menerima suntikan COVID yang masih tahap eksperimen yang tidak teruji secara memadai oleh Pfizer, yang juga bertentangan dengan Kode Nuremberg, maka warga negara bagian mana pun juga memiliki hak dan kewajiban yang sama. Menurut pengakuan beberapa warga di Virginia Barat juga muncul kasus bahwa disana orang-orang muda disuap $ 100 untuk menerima suntikan vaksin Covid-19.

4. Terapi dan profilaksis untuk virus corona, seperti Hydroxychloroquine (HCQ), telah disetujui di situs web WHO, CDC, dan NIH. Tapi, tiba-tiba di tahun 2020 mereka dilarang. Mengapa ? Karena, menurut aturan FDA, hanya jika tidak ada terapi alternatif, vaksin yang belum teruji dapat dibebaskan untuk Otorisasi Penggunaan Darurat. Pada tahun 2020, perusahaan Kanada, Apotex, telah mendonasikan HCQ kepada para tenaga medis untuk uji klinis pencegahan Covid-19. Sekarang, para dokter juga memohon agar Ivermectin digunakan sebagai terapi yang aman. Para dokter di India dan Inggris angkat bicara. Kosta Rika juga telah menggunakan HCQ secara ekstensif, sementara Novartis menyumbangkannya ke Meksiko. Di India, dokter meresepkan Ziverdo yang juga mengandung ivermectin.

5. Para Dokter Garis Depan yang mencoba menjelaskan manfaat dari terapi yang telah terbukti justru dibungkam, dan beberapa telah dicabut lisensinya. Sebuah ringkasan yang disusun oleh Dr. Simone Gold, yang juga merupakan pengacara dan pendiri organisasi Dokter Garis Depan Amerika, dianggap sebagai laporan yang melawan pemerintah. Selain itu, British Medical Journal juga telah melaporkan adanya pelanggaran aturan, korupsi, dan penindasan atas sains yang terjadi selama pandemi ini. Aliansi Dokter Dunia juga telah bergabung dengan perlawanan menentang tirani medis ini. Di Australia, Covid Medical Network mewakili profesional medis senior juga melakukan perlawanan menentang kesewenang-wenangan pemerintah.

Fauci dan CDC telah membuat pernyataan yang "plin-plan, tidak jelas, membingungkan dan tidak bisa dipercaya " mengenai masker, permukaan yang terkontaminasiorang tanpa gejala, dan pengetesan. Bahkan baru-baru ini mereka mengakui bahwa kekebalan kelompok (herd immunity) dapat dicapai ketika antibodi disebarkan oleh mereka yang mampu bertahan dari penyakit (99,9%). Tetapi anehnya, di sisi lain mereka masih merekomendasikan untuk menjaga jarak sosial (social distancing). Bedanya sekarang mereka mengubahnya dari dari ukuran 6 kaki menjadi 3 kaki. Pada akhirnya kebijakan Fauci dan CDC menghasilkan peta lockdown seperti ini.

Berbicara tentang kekebalan kawanan, WHO malah mengubah definisi awalnya pada 7 Juni 2020 dari :

" Kekebalan kelompok adalah perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika suatu populasi kebal, baik melalui vaksinasi atau kekebalan yang dikembangkan melalui infeksi sebelumnya "

menjadi :

“ Kekebalan kelompok, juga dikenal sebagai 'kekebalan populasi', adalah konsep yang digunakan untuk vaksinasi, di mana suatu populasi dapat dilindungi dari virus tertentu jika ambang batas vaksinasi tercapai. Kekebalan kelompok dicapai dengan melindungi orang dari virus, bukan dengan mengekspos mereka ke sana "

pada 13 November 2020.

Tapi, pada Desember 2020 WHO sekali lagi melakukan perubahan definisi dengan membuat pernyataan yang tidak masuk akal ini :

" Vaksin melatih sistem kekebalan kita untuk membuat protein yang melawan penyakit, yang dikenal sebagai 'antibodi', seperti yang akan terjadi ketika kita terpapar suatu penyakit, tetapi - yang terpenting - vaksin bekerja tanpa membuat kita sakit. Orang yang divaksinasi terlindung dari penyakit (yang dipertanyakan apakah bisa meneruskan patogen itu ?), sehingga dengan demikian memutus rantai penularan "(4).

Dan mereka terus mengubah-ubah pernyataan sehingga semakin tidak jelas. Uji coba vaksin Pfizer sebelumnya memperingatkan agar para pria untuk menjauh dari wanita hamil ... tetapi sekarang malah CDC mendorong wanita hamil untuk menggunakan agen biologis eksperimental (vaksin, maksudnya) tanpa perlu berpikir dua kali.

CDC juga telah bertindak bodoh dan konyol tentang ambang batas hitungan (cycle) 37 hingga 40 yang digunakan untuk pengetesan PCR COVID yang menghasilkan 85-90% kasus positif palsu. Tapi sekarang, mereka malah mengubah ambang batas bawah menjadi 28 hitungan (cycle) untuk pengujian pasca-vaksin


© 2012 - 2019 by Sumiharso. Powered by Blogger.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design